Sabtu, 28 Maret 2015

Ritual Kelahiran dan Kematian Budaya Sasak Lombok















NAMA        :         AYU ANGGRAINI JAFRI
                     NPM           :         51414865
                     KELAS       :         1IA03
                     DOSEN      :         MUHAMMAD FAKHRURROZI M.Psi.,Psi



UNIVERSITAS GUNADARMA
TEKNIK INFORMATIKA
JAKARTA
2015




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu ilmu pengetahuan social yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi di dukung dan memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu lainnya, khususnya ilmu sosial, misalnya sosiologi, sejarah, politik, ekonomi, psikologi, dn geografi. Ilmu-ilmu tersebut sangat berkaitan satu sama lain.
Selain itu, ilmu budaya dasar merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang membicarakan khusus mengenai kehidupan sosial masyarakat, terutama kebudayaan yang ada di dalam masyarakat tersebur. Antara masyaarakat yang satu dengan masyarakaat lainnya tidak pernah memiliki satu kebudayaan yang sama persis atau dengan kata lain terdapat kebudayaan yang selalu berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya.
Oleh karena itu, penyusun mencoba mengangkat satu tema kebudayaan yang ada dalam masyarakat Sasak di Lombok. Kebudayaan di Lombok sangat beranekaragam, mulai adapt bagaimana upacara ketika melahirkan, perkawinan, ritual agama, keseharian, sampai dengan upacara saat kematian.
Dalam hal upacara kematian, masyarakat Sasak memiliki tradisi yang cukup unik yang tentunya tidak ada dalam masyarakat suku lain di Indonesia. Mulai ketika hari pertama meninggal (jelo mate) sampai hari kesembilan (nyiwak) dan hari-hari selanjutnya.

B.     Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini antara lain:
1)      Untuk dapat memahami cara-cara adat Sasak dalam hal kelahiran dan kematian.
2)      Untuk dapat lebih mengerti aapa-apa yang harus dilakukan apabila terjadi kelahiran dan kematian   
         dalam masyarakat Sasak.

D.    Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas  dalam makalah ini antara lain
1)      Hubungan Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar dengan ilmu sosial lainnya
2)      Upacara kelahiran dan  kematian dalam adat sasak







BAB II
 PEMBAHASAN

RITUAL KELAHIRAN

Anak merupakan sesuatu yang sangat didambakan bagi pasangan suami istri, begitu pula dengan masyarakat sasak. Ketika mendapatkan seorang anak (melahirkan anak) masyarakat sasak umumnya melakukan berbagai upacara untuk mensyukuri kelahiran anaknya. Berikut adalah berbagai Upacara Kelahiran  yang dilakukan oleh masyarakat sasak sebelum dan ketika telah melahirkan anak.

A.   BRETES
Upacara bretes dilakukan setelah usia kandungan tujuh bulan dengan maksud memberikan keselamatan kepada ibu dan calon banyinya. Setelah banyi lahir, ari-arinya diperlakukan sama dengan sang  banyi, karena menurut mereka ari-ari adalah saudara sang banyi yang oleh orang-orang Sasak disebut adik-kakak, berarti bayi dan ari-arinya adalah adik-kakak.
Setelah ari-ari dibersihkan kemudian di masukkan ke dalam periuk atau tempurung kelapa setengah tua yang sudah dibuang airnya kemudian ditanam di wilayah penirisan yang diberi tanda dengan gundukan tanah seperti kuburan. Sebagai batu nisannya dipergunakan bambu kecil berlubang yang diletakkan berdampingan dengan lekesan daun sirih yang sudah digulung dan diikat dengan benang putih, pinang, kapur sirih dan rokok tradisional. Semua kelengkapan tadi ditata dalam rondon. Rondon tersebut dari daun pisang yang berbentuk segi empat menyerupai kotak.

B.   MELAHIRKAN ANAK
Setelah itu mengadakan sesaji atau selamatan melalui upacara  tertentu yang berkaitan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari, sebagai mana halnya yang dilakukan wanita Sasak apabila melahirkan, maka suaminya segera mencari belian (dukun beranak) yang mengetahui seluk beluk melahirkan tersebut.
Dalam melahirkan, apabila calon ibu kesulitan dalam melahirkan maka belian atau dukun beranak menafsikan bahwa tingkah laku sang ibu sebelum hamil, misalnya kasar terhadap suami atau ibunya, untuk itu diadakan upacara seperti menginjak ubun-ubun, meminum air bekas cuci tangan yang disertai dengan mantra dan sebagainya agar mempercepat kelahiran sang bayi.

C. MOLANG MALIK
 Pada saat bayi berumur tujuh hari diadakan upacara molang malik (membuang sial) diperkirakan dalam usia tersebut pusar bayi telah gugur. Pada kesempatan itulah sang bayi diberi nama dan diperbolehkan keluar rumah. Belian (dukun beranak)  mengoleskan sepah sirih di atas dada dan dahi sang bayi maupun ibunya. Di beberapa tempat di Lombok selain upacara  molang malik dikenal juga upacara pedak api yang pada hakikatnya bertujuan sama. Prosesi pelaksanaan pedaq api adalah :
1.      Mem-boreh sang ibu dengan boreh yang sudah diramu atau di haluskan dan diberi doa oleh dukun beranak.
2.      Setelah selesai memboreh lalu dukun menyiapkan bara api yang terbuat dari sabut kelap yang di taburi kemenyan dari daun lemundi (sejenis tumbuhan pardu).
3.      Ibu bayi menggunkan kain secara berkembeng (kain sampai batas dada) sambil menggendong bayinya dan berdiri diatas bara api dan kemudian dukun memberinya doa / mantra.
4.      Setelah dukun beranak atau belian selesai berdoa bara api disiram dengan air bunga rampai (medak api)
5.      Kemudian sang ibu menyembe’ dan menjam-jam (mendoakan si bayi menurut kehendak sang ibu). Hal ini dilakukan apabila tali pusar sang bayi sudah kering dan terlepas dari pusarnya.
Pada saat itu juga diadakan upacara turun tanah (turun gumi) dengan menurunkan bayi tersebut sebanyak tujuh kali ke atas tanah. Bertepatan dengan ini juga diadakan pemberian nama pada si bayi. Untuk bayi perempuan diturunkan bilamana terdapat alat nyesek(menenun) dan untuk bayi laki-laki diturunkan bilamana terdapat tenggele/bajak (alat pertanian). Umumnya dibeberapa tempat, si bayi yang melangsungkan upacara pedaq api digendong memakai umbaq (lempot). Bila bayinya perempuan maka yang dipakai adalah umbaq yang dipakai milik ayah, sedangkan jika laki-laki maka yang dipakai adalah umbaq milik ibunya.
Bagi orang Sasak, pusar si bayi yang sudah jatuh disimpan dan dibungkus dengan kain putih dan kemudian dimasukkan  ke dalam tabung perak atau kuningan untuk dijadikan azimat. Selain itu air bekas siraman pusar bisa dijadikan obat apabila si anak sakit mata.
D.   NGURISANG
Upacara ini sangat penting artinya bagi sebuah keluarga, rambut yang di bawa dari dalam kandungan di sebut bulu panas, maka harus dihilangkan. Untuk itu masyarakat Sasak melakukan selamatan, doa atau upacara sederhana yang disebut ngurisang. Pada upacara ini pihak keluarga mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat untuk membacakan selakarang
yang terdiri dari untaian do’a dan Shalawat Nabi.
Biasanya seorang laki-laki atau ayahnya menggendong bayi tersebut sambil berjalan berkeliling dihadapkan orang –orang yang sedang membacakan selakaran  serta masing –masing yang hadir memotong sedikit rambut sang bayi dengan gunting yang direndam dalam air bunga. Pada upacara ini dikenakan sabuk pemalik yakni alat yang dipergunakan untuk menggendong si bayi. Sabuk pemalik dianggap keramat karena proses pembuatan dan penyimpanannya berdo’a.
Upacara ngurisang biasanya diadakan secara besar-besaran dan diikuti dengan upacara bekekah yaitu memotong hewan kurban di sebut begawe kekah. Sering kali terkadang pelaksanaan bekuris agak mundur karena terkait dengan finansial. Namun jika tidak mampu cukup pergi ke dukun beranak yang telah membantu kelahirannya. Dalam hal ini cukup mengantar sesaji (andang-andang) dan sabuk katik (sejenis umbak tepi berukuran kecil dengan bentuk masih bersambung). Sabuk ketiq di masyarakat Sasak disebut Lempot puset atau sabuk kuning.
Beberapa kelompok masyarakat ada yang melaksanakan upacara ngurisang di pedewaq atau kemaliq (ritual waktu telu) disebut begawe rasul. Sebelum upacara ngurisang dimulai terlebih dahulu dibuatkan umbaq kombong yaitu umbaq yang rumbainya tidak terdapat ikatan kepeng bolong (uang logam China). Jika terdapat ikatan pada rumbainya maka umbaq tersebut dipergunakan pada upacara ngayu-ayu di masyarakat Sasak.
Tenun umbaq kombong dibuat oleh ibu atau nenek yang dipandang memiliki kemampuan secara spiritual dan tidak dalam keadaan kotor. Jika tidak memiliki kemampuan dapat mendatangkan  bencana bagi si penenun.
 E. NYUNATANG

Nyunatang (Khitanan) selain merupakan acara adat, juga merupakan acara keagamaan dalam hal ini terkenal dengan nama “nyunatang”. Pada umumnya suku Sasak memeluk agama Islam yang dalam ajarannuya diperintahkan bagi anak laki-laki untuk dikhitan ( nyunatang). Dalam nyunatang  terjadi pertalian antara nilai-nilai agama Islam dengan Tradisi lama yang berkembang dalam suku Sasak, sehingga diadakan pada bulan Maulid nabi besar Muhammad SAW. Anak laki-laki yang akan dikhitan bisanya berumur lima tahun atau tujuh tahun, namun dalam prakteknya anak-anak berumur empat tahun pun dikhitan. Dalam upacara nyunatang ada beberapa hal yang harus dilakukan :
   a.  Menjelang Nyunatang
Upacara adat nyunatang adalah salah satu upacara yang sangat penting bagi masyarakat Sasak yang selalu dipestakan yang disebut  begawe. Dalam prosesi begawe ini banyak sekali dilalui berbagai macam acara seperti pergi membersihkan beras ke mata air yang diiringi dengan bunyi-bunyian musik tradisional gendang belek atau gamelan.
  b.  Pelaksanaan Nyunatang
Sehari sebelum pelaksanaan nyunatang terlebih dahulu diambilkan air kemaliq untuk disiram ke ujung kemaluan yang akan dipotong , biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian. Proses penyiraman dan pemandian dilangsungkan pada tengah malam. Pada keesokan harinya untuk menyenangkan anak yang akan disunat maka anak tersebut diarak dengan praja (kuda/singa kayu) yang diiringi dengan musik dan rombongan yang berpakaian adat.
Anak yang akan dikhitan dibawa ketempat penyunatan (sepekat). Setelah disunat segera diobati, untuk mengurangi pendcarahan pada bekas sunatan, ditaburi bulu kucing yang dicampur dengan kuning telur, supaya lekas kering ditaburi dengan batu karang yang telah ditumbuk halus.
Pada masyarakat Sasak, upacara nyunatang  dilaksanakan pada hari Kamis sebagai puncak acara dalam bulan Maulid. Hal ini dikaitkan dengan kelahiran seorang Rasul pembawa agama Islam. Kegiatan ini bermakna simbolis atas pengakuan, pembentukan dan pembinaan dalam fase awal untuk menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, diyakini sangat tepat upacara nyunatang dirangkaikan dengan peringatan akhir kelahiran Nabi.


RITUAL KEMATIAN

Dalam siklus kehidupan manusia, peristiwa kematian merupakan akhir kehidupan seseorang di dunia. Masyarakat meyakini kehidupan lainsetelah kematian. Di beberapa kelompok masyarakat dilakukan persiapanbagi si mati. Salah  satu peristiwa  yang harus  dilakukan adalah penguburan. Penguburan meliputi perawatan mayat termasukmembersihkan, merapikan, atau mengawetkan mayat:
Upacara adat kematian yang dilaksanakan sebelum acarapenguburan meliputi beberapa tahapan yaitu:
1.            Belangar
Masyarakat Sasak Lombok pada umumnya menganut agama Islam sehingga setiap ada yang  meninggal ada beberapa proses yang dilalui. Pertama  kali  yang  dilakukan  adalah  memukul   beduk dengan  irama pukulan yang panjang. Hal ini sebagai pemberitahuankepada masyarakat bahwa   ada  salah  seorang  warga  yang meninggal.  Setelah  itu  maka masyarakat berdatangan baik dari desatersebut atau desa-desa yang lain yang masih dinyatakan adahubungan famili, kerabat  persahabatan dan handai taulan. Kedatanganmasyarakat ke tempat acara kematian tersebut disebut langar(Melayat).
Tradisi belangar bertujuan untuk menghibur teman, sahabat yangdi tinggalkan  mati oleh keluarganya, Mereka biasanya membawa beras seadanya guna membantu meringankan beban yang terkena musibah.

2.            Memandikan
Dalam pelaksanaannya, apabila yang meninggal laki-laki maka yang memandikannya  adalah laki-laki, demikian sebaliknya apabila yang meninggal perempuan maka yang  memandikannya adalah perempuan. Perlakuan pada orang yang meninggal tidak dibedakanmeskipun dari segi usia yang meninggal itu baru berumur sehari.Adapun yang memandikan itu biasanya tokoh agama setempat. Adapunmacam air yang digunakan adalah air sumur. Setelah di  mandikan,mayat dibungkuskan pada acara ini, biasanya si mayit di taburi keratankayu cendana atau cecame.

3.            Betukaq (Penguburan)
Adapun upacara-upacara yang dilaksanakan sebelum penguburanmeliputi beberapa persiapan yaitu:
a)      Setelah seseorang dinyatakan meniggal maka orang tersebut dihadapkan ke kiblat. Di ruang tempat orang yang meninggal dibakar kemenyan dan dipasangi langit-langit  (bebaoq) denganmenggunakan kain putih (selempuri) dan kain tersebut baru boleh dibuka  setelah hari kesembilan meninggalnya orang tersebut. Selesai dibungkus si mayat disalatkan di rumah oleh  keluarganya sebagai salat pelepasan, lalu dibawa ke masjid atau musala.
b)      Pada hari tersebut (jelo mate) diadakan unjuran sebagai penyusuran bumi (penghormatan bagi yang meninggal dan akan dimasukkan ke dalam  kubur),  untuk  itu  perlu   penyembelihan   hewan  sebagai tumbal.
4.            Nelung dan Mituq
Upacara ini dilakukan keluarga untuk doa keselamatan arwah yang meninggal dengan harapan dapat diterima di sisi Tuhan YangMaha Esa, selain itu keluarga yang ditinggalkan tabah menerimakenyataan dan cobaan. Selanjutnya diikuti dengan upacara nyiwaq danbegawe dengan persiapan sebagai berikut:
a)      Mengumpulkan kayu bakar.
Kayu biasanya dipersiapkan pada hari nelung (hari ketiga)  dan mitu (hari ketujuh) dengan cara perebaq kayu (menebang pohon).
b)      Pembuatan tetaring.
Pembuatan tetaring terbuat dari daun kelapa
yang dianyam dandigunakan sebagai tempat para tamu undangan (temue) duduk bersila.
c)      Penyerahan bahan-bahan begawe.

Peyerahan dari epen gawe (yang punya gawe) kepada inaq gawe.Penyerahannya ini dilakukan pada hari mituq. Kemudian inaq gawemenyerahkan alat-alat upacara.
d)     Dulang Inggas Dingari
Disajikan kepada Penghulu atau Kyai yang menyatakan orangtersebut meninggal dunia. Dulang inggas dingari ini harus disajikan tengah malam kesembilan hari  meninggal dengan maksud bahwapemberitahuan bahwa besok hari  diadakan upacara sembilan hari.

e)      Dulang penamat
Adapun maksudnya simbol hak milik dari orang yang meninggalsemasa hidupnya harus diserahkan secara sukarela kepada orang yang berhak mendapatkannya.   kemudian  semua keluarga dan undangan dipimpin oleh Kyai melakukan do’a selamatan untukarwah yang meninggal agar diterima Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan mengikhlaskan kepergiannya.
f)       Dulang talet Mesan (Penempatan Batu Nisan)
Dimaksudkan sebagai dulang yang diisi dengan nasi putih, laukberupa burung merpati dan beberapa jenis jajan untuk dipergunakan sebelum nisan dipasang oleh Kyai yang memimpin do’a yangkemudian dulang ini dibagikan kepada  orang yang ikut serta padasaat itu. Setelah berakhirnya upacara ini selesailah upacara nyiwak.
Adapun rangkaian  upacara  kematian  pada  masyarakat  Sasak yaitu:

 a .     Hari pertama disebut nepong  tanaq atau nuyusur tanaq. Pemberian informasi   
         kepada warga desa bahwa ada yang meninggal.
       b.      Hari kedua tidak ada yang bersifat ritual.
       c.      Hari ketiga disebut nelung yaitu penyiapan aiq wangi dan  
                dimasukkan kepeng bolong untuk didoakan.
       d.      Hari keempat menyiram aiq wangi ke kuburan.
       e.       Hari kelima melaksanakan bukang daiq artinya mulai membacaAQur’an.
       f.       Hari keenam melanjutkan membaca Al-Qur’an.
       g.      Hari ketujuh disebut Mituq dirangkai dengan pembacaan Al-Qur’an.
       h.      Hari kedelapan tidak ada acara ritual yang dilaksanakan, dan
       i.       Hari kesembilan yang sebut Nyiwaq atau Nyenge dengan acara akhir perebahan jangkih.






2 komentar:

  1. makalah nya juga udah bagus ko

    http://www.marketingkita.com/2017/08/indahnya-sebagai-sales-marketing.html

    BalasHapus
  2. Tambahin refrensinya juga dong

    BalasHapus